Poetry about Life (Bahasa Indonesia)

1. ​”Seakan aku disapa”

Pernah aku berjalan di tengah sunyi, seakan merasa disapa oleh  pohon, binatang dan juga embun.

Tapi tak mendengar apa yang mereka katakan.

Lalu pergi tanpa melihat balik pada mereka.

Esoknya aku lewat lagi di tempat yang sama.

Kembali aku merasa seperti di sapa oleh angin, hujan, dan juga tanah.

Tapi aku tak pernah mendengar apa yang mereka katakan.

Pernah suatu hari aku berada di tengah hiruk pikuk manusia, di tengah keramaian

Dimana aku merasa sebagai tangan dan mereka bagian lainnya.

Sepenuh hatiku menyapa dengan lambaian tangan ini.

Esoknya aku datang kembali kesana,

Kulaimbaikan tanganku bagai pelepah pohon kelapa yang begitu ramah pada angin.

Semuanya seolah terus berulang, sampai aku lupa siapa diriku sebenarnya.


2. “Hilang Arah”

Ketika malam aku terjaga,
Dibarengi angin dingin menghembus dikelilingku.
Suara rintik hujan tak lelah menemani,
Walau sinar bulan tak terlihat malam ini.

Saat itu, aku duduk tersungkur di hadapan-Mu,
membisikkan seribu tanya dan sejuta harapan.
Melantunkan ayat-ayat-Mu,
Dan meneteskan air mata.

Berkeluh kesah tentang betapa bodohnya aku sebagai hamba,
Makhluk yang sudah tertindih di balik beratnya beban dunia.
Yang jatuh dalam lubang tipu daya manusia,
Makhluk yang sudah hilang arah dan lupa tentang asalnya.

3. “Haruskah Aku?”

Apakah sesusah ini menjadi seorang wanita? Makhluk yang sungguh ditakdirkan untuk menunggu.
Bila kau berani bergerak tanpa menunggu, apakah kau tak takut orang akan berkata buruk tentangmu?
Bila kau hanya diam menggigit jari
Bak seluruh tubuhmu terikat erat oleh lakban hitam itu.
Apa kau tak takut kehabisan lelaki yang baik?
Dilema ini seolah jadi hantu di siang bolong yang selalu mengganggu pikiran sang wanita.
Dan juga menjadi mimpi buruk di malam yang suntuk untuknya.
Semalang itukah menjadi wanita?
Haruskah ia terus menjadi bunga yang menunggu lebah pengisap untuk membantunya mekar?
Atau berubah menjadi singa yang lapar akan daging rusa dewasa itu?
Hal-hal itulah yang selalu menggangu pikirannya, seakan hanya ada dua pilihan itu dalam hidupnya.

@ All Rights Reserved

Originally made by Fajriah. Copying is not allowed.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s